Tuesday, January 16, 2007

MOTIVASI DALAM KONTEKS MANUSIA ORGANISASIONAL

Manusia dilahirkan dengan keragaman dilihat dari aspek kekuatan fisik, intelegensia, emosi, spirit, motivasi, dan sebagainya. Meski memiliki keragaman, ada kesamaan sejati dalam diri manusia, yaitu kemampuan menggerakan diri atau digerakan untuk mewujudkan potensi menjadi aktual. Potensi energi tubuh, atau energi otak tidaklah bermakna apa-apa, tanpa kemampuan dan kemauan menggerakkannya. Bagaimana potensi atau energi manusia dapat dimanupulasi menuju wacana produktif.

Mengapa motivasi manusia organisasional itu begitu penting?. Didalam khasanah totalitas mekanisme kerja keorganisasian, dari sekian banyak sumber potensi yang mendukung keberhasilan organisasi., sumber daya manusia (SDM) menjadi kunci utama. SDM yang dimaksud adalah meraka yang mempunyai komitmen yang konsisten dalam memotivasi diri pada level tertentu untuk berprestasi sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya. Mereka ini adalah orang-orang yang mempunyai dorongan kuat untuk maju secara lebih unggul dari pada yang lain dengan menggunakan prinsip kejujuran, tidak cepat merasa puas, inovatif dan tanpa frustasi berlebihan dalam menghadapi aneka perubahan situasi yang berdinamika serta mempunyai daya adaptabilitas yang tinggi.

B. ISTILAH DAN NILAI ESENSIAL

Istilah motivasi (Motivation) atau motif (motive) popular dalam dunia kehidupan yang menuntut prestasi. Didalam kerja dikenal istilah motivasi kerja.Motivasi (motivation) diartikan sebagai kekuatan dorongan, kebutuhan, semangat, tekanan, atau meknisme psikologi yang mendorong seseorang atau sekelompok orang untuk mencapai prestasi tertentu sesuai dengan apa yang dikehendakinya.

Istilah motivasi paling tidak memuat tiga unsur esensial. Pertama, faktor pendorong atau pembangkit motif, bail internal maupun eksternal. Kedua, tujuan yang ingin dicapai. Ketiga, Strategi yang diperlukan oleh individu atau kelompok untuk mencapai tujuan tersebut. Misalnya jika seseorang sedang merasakan kehausan, maka dia akan berusaha untuk menemukan air untuk diminum. Jika dia merasa lapar, maka dia akan berusaha untuk mencari makanan yang layak untuk dia makan. Jika kegiatan itu dilakukan oleh orang yang sedang haus, tujuan yang ingin dia capai adalah menghilangkan rasa haus. Jika kegiatan itu dilakukan oleh oarang yang merasa lapar, maka tujuan yang ingin meraka capai adalah menghilangkan rasa lapar.

Untuk memperoleh air yang memenuhi syarat layak untuk diminumdiperlukan strategi atau cara tertentu. Jika air tersebut kelihatan kotor dan kurang bersih, maka harus disaring terlebih dahulu, baru kemudia dimasak. Setelah itu dimasak, air itu didinginkan, lalu diminum.Uraian diatas membiaskan motiv seperti ingin menghilangkan rasa haus dan keinginan mendapatkan air yang aman diminum.

Kekuatan, dorongan, kebutuhan, tekanan, dan mekanisme psikologi yang dimaksud diatas merupakan akumulasi faktor-faktor internal dan eksternal (internal and extenal factor). Faktor internal (internal factor) bersumber dari dalam individu itu sendiri, sedangkan faktor eksternal (external factor) bersumber dari luar individu. Faktor internal dapat pula disebut sebagai akumulasi dari aspek-aspek internal individu, seperti kepribadian, intelegensia, ciri-ciri fisik, kebiasaan, kesadaran, minat, bakat, kemauan, spirit, antusiasme, dan sebagainya. Faktor eksternal bersumber dari lingkungan, apakah itu lingkungan fisik, sosial, tekanan, dan regulasi keorganisasian. Faktor internal dan eksternal diaktualisasikan oleh individu dalam bentuk kapasitas unjuk kerja (work performance) atau kapasitas produksi, baik yang dapat diuantifikasi secara hampir pasti maupun yang bersifat variabilitas.